Rembang (19/12/2013). Program revitalisasi tambak akan terus didorong oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya untuk meningkatkan kesejahteraan petambak. Program ini tidak hanya kerja KKP tetapi juga melakukan sinergi dengan Kementerian yang lain sepertiKementerian Pekerjaan Umum (KEMENPU) yang mempunyai anggaran pengairan dan juga Badan Pertanahan Nasional (BPN) mengenai penyediaan lahan budidaya. 
 
"Apalagi sekarang didorong dengan masuknya dunia perbankan untuk membantu dalam masalah pembiayaan, program ini akan dapat terus berkembang sebagai program percontohan dalam mengembangkan system budidaya udang yang intensif dengan teknologi dan pengelolaan yang mapan. Sehingga Cara Budidaya Ikan yanhg Baik (CBIB) dapat diterapkan secara maksimal dan menghasilkan produksi dengan kuantitas tinggi dan kualitas yang memenuhi standar, Kondisi ini akan mendorong perbankan untuk terus bersemangat dalam membantu," demikian disampaikan  Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam acara Penebaran Benih Udang Vanamel di Tambak Percontohan (Demfarm) Pokdakan Sukowati Rembang, Kamis (19/12).
 
Lebih lanjut Slamet mengatakan bahwa kebijakan Industrialisasi kelautan dan perikanan yang bergulir selama kurang lebih satu tahun dirasa sudah mulai membuahkan hasil, khususnya di sektor perikanan budidaya. Contohnya, program revitalisasi tambak melalui program Demfarm. Salah satu yang dilakukan adalah harmonisasi program lintas sektor. KKP khususnya Direktorat Jendral Periknanan Budidaya aktif “menjemput bola” dengan menginisiasi berbagai kerjasama. “Disamping kerjasama dengan KEMENPU untuk memperbaiki infrastruktur seperti saluran irigasi tambak dan jalan produksi, DJPB juga menggalang kerjasama dengan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KEMEN ESDM). Terutama untuk mengupayakan agar listrik bisa masuk ke lokasi-lokasi budidaya udang. Sebab dengan adanya listrik masuk sampai ke lokasi tambak, beban biaya listrik lebih murah ketimbang Bahan Bakar Minyak (BBM),” tambah Slamet.
 
Menurut Slamet, dengan semakin banyaknya petambak di sekitar demfarm yang membuka lahan tambak, penambahan areal tambak ini tentunya harus diikuti dengan perbaikan dan memelihara lingkungan di sekitar tambak. “Sehubungan dengan hal itu, DJPB juga menggandeng Kementerian Kehutanan (KEMENHUT) untuk melakukan penanaman bakau/mangrove di lahan sekitar tambak udang. Penanaman pohon bakau ini bertujuan untuk mencegah abrasi maupun erosi di pantai di sekitar tambak dan sekaligus melindungi lingkungan perairan disekitar tambak”, ungkap Slamet.
 
Kerjasama yang dilakukan dengan BPN untuk sertifikasi lahan budidaya bertujuan agar nantinya lahan tambak dapat di agunkan untuk mendapatkan tambahan permodalan dari perbankan.“Infrastruktur yang baik dan memadai, akan menjadi daya tarik bagi investor lokal maupun asing untuk menanamkan modalnya pada usaha budidaya perikanan,” tandas Selamet.
 
Slamet juga memaparkan bahwa saat ini sektor perbankan sudah meminati budidaya perikanan dalam memberikan pembiayaan kepada para petambak/pembudidaya, seperti Bank Rakyat Indonesia (BRI) sudah memulai merambah sektor perikanan budidaya ini, bahkan disusul dengan Bank Tabungan Negara(BTN). Yang diperlukan sekarang ini adalah pemahaman kepada para pembudidaya  untuk memanfaatkan sektor perbankan terkait dengan pembiayaan modal perikanan budidaya" tambah Slamet.
 
Slamet menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada para petambak yang sudah bekerjasama dalam memanfaatkan secara maksimal sarana dan prasarana yang telah disediakan melalui program ini. “Salah satu tujuan dari program ini adalah meningkatkan produktivitas tambak-tambak milik para petambak yang sudah lama mangkrak untuk dibangkitkan kembali dengan sentuhan-sentuhan teknologi baru dan pengelolaan tambak modern dengan system klaster sehingga mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi secara berkelanjutan. ,” pungkas Slamet. 
 
 
Petambak Tingkatkan Produksi
 
Ketua Kelompok Budidaya Ikan (POKDAKAN) “Surowati” Rembang, Edi Sujianto mengatakan bahwa melalui program tambak percontohan ini POKDAKAN Surowati akan mampu meningkatkan produksi dan kualitas udang vaname yang dihasilkan. “Bantuan sarana dan prasarana kepada kelompok budidaya ini akan dimanfaatkan dengan baik. Apalagi dengan masuknya teknologi budidaya udang system tertutup dan system klaster ini, hal ini akan membuat kelompok ini berkembang dengan pesat dibandingkan pada saat melakukan budidaya udang melalui cara tradisional," ujar Edi.
 
Edi juga menjelaskan bahwa luas lahan yang digunakan untuk tambak percontohan  budidaya udang varane di Kec. Sluke seluas 8 hektare. Sedangkan Kabupaten Rembang secara keseluruhan mendapatkan alokasi program Demfarm seluas 28 hektare. "Dengan lahan percontohan yang begitu luas, mudah-mudahan manfaatnya akan bisa berkembang," tutup Edi.
 
 
 
Narasumber : 
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya
Dr. Ir. Slamet Soebjakto.

 

Dikembangkan oleh Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa