Sumberdaya ikan pelagis kecil merupakan salah satu sumberdaya perikanan yang cukup melimpah dan banyak ditangkap untuk dijadikan konsumsi masyarakat di Indonesia maupun dunia. Salah satu sumberdaya ikan pelagis kecil yang banyak disukai adalah ikan kembung (Rastrelliger spp.). Genus Rastrelliger terdiri dari tiga spesies yaitu R. brachysoma, R. kanagurta dan R. faughni, namun di Indonesia R. faughni tidak komersil seperti R. kanagurta dan R. brachysoma. Masyarakat Indonesia mengenal R. kanagurta dengan nama kembung laki atau kembung banjar sedangkan R. brachysoma dikenal dengan nama kembung perempuan atau kembung peda atau kembung gepeng. Di Indonesia, volume produksi R. brachysoma pada tahun 2011 sebesar 291.863 ton. Ikan ini merupakan komoditas dengan volume produksi tertinggi ke-3 dibawah ikan layang (Scad) 405.808 ton dan ikan Cakalang (Skipjack tuna) 372.211 ton (KKP 2012). Filipina merupakan negara dengan volume produksi R. brachysoma tertinggidi dunia,yaitu 347.163 ton (FAO 2012).

Ikan kembung disukai karena bergizi tinggi, dagingnya lembut, mudah diperoleh, harga terjangkau dan tidak menimbulkan alergi (Santoso et al. 1997). Ikan Kembung mengandung energi sebesar 103 kilokalori, protein 22 gram, karbohidrat 0 gram, lemak 1 gram, kalsium 20 miligram, fosfor 200 miligram, dan zat besi 1 miligram.  Selain itu di dalam Ikan Kembung juga terkandung vitamin A sebanyak 30 IU, vitamin B1 0,05 miligram dan vitamin C 0 miligram.

Tingkat kesukaan ikan kembung di Pulau Jawa adalah 7,87% dan 5,1% untuk ikan asin peda (olahan ikan kembung) (DPPHP 2010), sedangkan di kota Serang – Provinsi Banten adalah sebesar 12,7% (Indaryanto dan Saifullah 2011). Tingginya kesukaan terhadap ikan kembung ini disatu sisi patut mendapat apresiasi karena nelayan mendapat kepastian konsumen hasil tangkapannya namun disisi lain, ikan ini dilaporkan mengandung cacing parasitik Anisakis sp. (Arthur dan Lumanlan 1997; Arthur and Te 2006; Baladin 2007,Hutomo et al.1978).

Cacing parasitik Anisakis sp. dapat berbahaya bagi manusia atau disebut dengan Zoonosis. Dapat menimbulkan reaksi alergi, mual dan sakit perut akut (Jahncke dan Schwarz 2002).Hanya spesies Anisakis simplex, A. pegreffii dan A. physeteris saja yang bersifat zoonosis sedangkan spesies lainnya tidak (Arizono el al. 2012). Infeksi Anisakis simplex pada manusia pernah terjadi di negara Jepang, Belanda dan Spanyol.

Menurut penelitian Palm et al. (2008), Anisakis di perairan Bali maupun Laut Jawa secara genotip memiliki kesamaan genetik dengan Anisakis typica. Spesies ini hidup di perairan tropis atau hangat dengan inang akhir lumba-lumba dari famili Delphinidae, Phocoenidae dan Pontoporidae (Palm et al. 2008; Iniguez el al. 2011). Daerah penyebaran Anisakis simplex adalah di daerah beriklim sedang (temperate zone) (Strømnes dan Andersen 2003).

Walaupun cacing parasitik Anisakis yang ada di Indonesia bukan termasuk ke dalam spesies yang bersifat zoonosis namun ada baiknya untuk mengkonsumsi ikan matang. Pada saat ini di Indonesia semakin banyak restoran-restoran asing yang menghidangkan daging ikan mentah atau setengah matang yang cepat atau lambat akan berpeluang timbulnya kasus penyakit parasiter pada manusia.

Kembung asam manis pedas

 

(Posted by Forcep Rio Indriyanto, S.Pi., M.Si.)

Dikembangkan oleh Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa